Setelah dapet majalah kawanku hari Rabu tanggal 30 Juni kemaren, seperti biasa rubrik pertama yang saya baca pasti bagian “Hi Girls” nya.. kenapa? Karena saya suka sekali baca cerita dari Mbak Trinzi, penulis rubrik itu. Banyak sekali pengalaman hidup dia yang dia ceritakan dan jujur itu selalu menjadi inspirasi saya. Say Thanks to Mbak Trinzi, hihihi..
Kali ini, dia menceritakan tentang Cinta.. kata Mbak Trinzi :
Cinta itu enggak cuman bikin kita buta. Tapi juga tuli dan bego. Tuli karena kita jadi enggak mau dengerin kata-kata orang lain. Bego karena mau aja ngelakuin hal-hal di luar akal kita. Tapi yah.. balik lagi ke satu hal itu.. Cinta.
Memang benar yang namanya cinta itu bikin kita rela berkorban.
Kalau buat saya pribadi, cinta itu berarti mau bikinin semua tugas tugasnya dia, nungguin dia berjam jam di sekolah waktu tambahan, membatasi pertemanan dengan cowok karena pacar ngga seneng kalau saya deket sama banyak cowo..
Dan saya juga merasakan kalau cinta itu berarti banyak hal. Apalagi dengan yang terakhir ini, saya banyak merasakan hal-hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya dan saya banyak melakukan hal-hal yang saya tidak pernah lakukan sebelumnya terhadap orang lain.
Pada awalnya saya mula-mula hanya merasa suka padanya, tapi perasaan itu lama kelamaan berubah menjadi rasa sayang karena pada awalnya dia menunjukkan rasa sayang nya yang terlihat begitu dalam dan tulus pada saya.
Inilah beberapa hal-hal yang saya korbankan demi dia :
Saya merasakan bagaimana rasanya mencintai dia dengan perasaan yang begitu mendalam, bahkan karena terlalu dalam nya saya rela melakukan apa saja yang bisa membuat nya bahagia. Saya rela mengeluarkan semua uang tabungan saya hanya demi membeli kado ulang tahunnya yang jujur, cukup menguras kantong saya tapi saya tidak merasa keberatan sedikit pun hanya supaya dia bahagia di saat hari ulang tahunnya itu. Saya rela melakukan hal hal yang tidak dia sukai supaya dia tidak marah dan kecewa pada saya, padahal hal itu sangat ingin saya lakukan. Saya rela bangun sangat pagi untuk mempersiapkan bekal untuknya saat tambahan pelajaran sekolah sementara saya sendiri sebenarnya masih ingin tidur. Saya rela membuatkan semua tugas sekolah nya di siang dan malam hari padahal saya tau saya sangat lelah dengan aktivitas saya dan sangat ingin beristirahat. Saya rela pergi keluar di malam hari hanya untuk mengambil tugasnya di rental pengetikan dengan posisi saya sbg seorang perempuan dan dia laki laki yang seharusnya dia lah yang mengambilnya dan bukan saya, padahal saya ingin bersantai di rumah dan menonton tv.
Saya rela melakukan hal hal konyol yang saya tau akan di ejek dan marah i oleh teman teman juga orangtua saya tapi saya tetap melakukan untuk dia hanya supaya dia bahagia.
Saya rela setiap kali harus menangis saat bertengkar dengannya hanya supaya dia berhenti mengecewakan saya dan supaya dia tau kalau hati saya sangat sedih tiap kali harus bertengkar dengan dia. Saya harus sabar menghadapinya yang kadang bertingkah seperti anak kecil padahal saya menginginkan sosok dia yang dewasa. Saya harus menerima kenyataan bahwa keluarganya tak pernah menganggap saya ada dan penting, padahal sebenarnya saya sangat ingin bertemu mereka. Saya hanya bisa bermimpi bisa dekat dengan keluarganya sementara di kenyataan nya dia tak pernah memperkenalkan saya sedikit pun dengan keluarganya setelah menjalin hubungan yang cukup lama dengannya. Saya harus menahan marah dan kecewa saat dia hanya bisa pergi dengan saya setiap selasa jum'at sementara saya ingin seperti pasangan lainnya yang bisa kencan saat malam minggu. Saya harus menerima kenyataan pahit di saat dia merasa bosan dan lelah pada saya, tak memberi kabar, tak menemui saya seperti biasa dan bertingkah seperti akan meninggalkan saya, saya mau tak mau harus rela dan ikhlas melepaskannya demi kebahagiaannya.
Saya harus menghadapi kenyataan bahwa dia ingin pergi dari kehidupan saya setelah semua apa yang saya korbankan dan lakukan untuk dia.
Saya harus belajar menerima kenyataan pahit saat dia menyuruh saya untuk menyerah dan berhenti mempertahankan hubungan ini lagi.
Saya harus menahan tangis di saat saya tidak ingin menyerah, tapi dipaksa untuk menyerah.
Saya harus merasakan bagaimana perih nya, sakit nya, sedih nya karena patah hati...
Saya harus merasakan begitu susahnya melupakan setiap kenangan manis bersamanya, dan setiap kali teringat saya selalu meneteskan air mata.
Bahkan saat secara tidak sengaja saya mendengarkan lagu di mall atau di jalan atau komputer atau di hp saya, saya harus merasa sedih karena selalu teringat betapa seringnya lagu itu saya dengarkan bersamanya di mobilnya atau menjadi salah satu lagu favoritnya.
Saya merasa begitu kacaunya pikiran dan hati saya jika melihat mobil nya dengan plat mobil yang saya sudah hafal di luar kepala lewat di depan rumah saya atau tanpa sengaja saya melihatnya.. lalu teringat kalau dulunya saya pernah duduk di mobil itu dan ada banyak tawa, tangis, dan kenangan manis bersama nya di situ.
Saya menjadi orang yang sedikit aneh, karena tidak suka mendengar orang mengatakan atau melihat tulisan Karawaci atau UPH, hanya karena alasan konyol, karena dia akan meneruskan kuliahnya di sana. Saya menjadi sedikit sensitif setiap melihat mobil CRV hitam, BMW warna hijau muda yang saya selalu lupa seri ke berapa, Rocky atau motor Satria, karena itu semua miliknya. Saya selalu mengingat dan mengenang tempat-tempat di Salatiga yang saya sering datangi bersamanya, padahal sebenarnya hal itu tidak perlu. Saya meremove dia dari friend list saya di facebook karena dia terlalu sering keluar di home saya dan selalu ber-wall wall an ria dengan para perempuan, hal itu membuat saya tidak nyaman, sehingga saya berpikir sebaiknya menghapus dia. Saya benar benar menjadi orang yang aneh.
Saya harus sanggup menahan betapa sakitnya melihat dia kembali begitu ramah nya kepada semua perempuan yang ada di akun facebooknya. Saya harus sanggup merasakan betapa hancurnya hati saya melihat dia kembali mendekati mantan-mantan nya yang jujur saya sangat sensitif dengan mereka..
Saya harus bertahan walaupun betapa sulitnya menghilangkan dia dari pikiran saya yang selalu menghantui saya setiap hari.. Saya harus bertahan walaupun saya sangat merindukannya dan sangat ingin mengirimkan sebuah pesan sekedar hanya bertanya bagaimana kabarnya, apakah dia bahagia dng hidupnya sekarang, namun terhalang oleh keadaan yang sudah tidak memungkinkan untuk saya yang memulainya terlebih dulu.
Dan hal itu sangat percuma dan sia sia..
Bagaimana rasanya menjadi saya?
Saya sendiri pun hampir tak tahu lagi siapa saya sekarang.
Saya sudah lelah, bahkan sangat lelah harus merasakan semua ini.
Karena dia, saya merasa sangat susah mempercayai diri saya sendiri bahkan orang lain yang ada di sekitar saya.
Karena dia, saya merasa sangat kesulitan untuk melupakan hal hal yang seharusnya sangat mudah untuk di lupakan.
Karena dia, saya bahkan tidak tau lagi bagaimana caranya membiarkan orang lain masuk di kehidupan saya.
Karena dia, saya merasa takut bahkan mungkin trauma.
However, begini lah rasanya mencintai seseorang dengan tulus. Dan walaupun saya sudah di sakiti terus menerus, dalam hati saya, saya masih sangat menyayangi dia dan masih ingin menghabiskan waktu bersamanya. Sekali lagi.. itulah Cinta. Cinta itu buta, tuli dan bego.
Dan karena untuk saya, kebahagiaannya begitu penting. Apapun akan saya lakukan demi kebahagiannya, termasuk membiarkannya pergi. Dan semoga dengan keputusannya itu, seiring berjalannya waktu dia akan selalu bahagia...
Karena kebahagiannya adalah kebahagiaan saya.
Pernahkah anda merasakan semua hal yang saya rasakan ini, tuan? Pernahkah?
Saya tidak pernah minta apa pun dari anda.
Karena sampai sekarang saya menyayangi anda dng tulus dan saya tidak tau sampai kapan perasaan ini akan terus selalu ada.
Saya hanya ingin anda tau bagaimana perasaan saya selama ini.
Saya hanya ingin anda tau bagaimana rasanya menjadi seorang saya selama ini.
Betapa bahagianya saya dalam sekejap namun juga tersiksanya saya?
Bagaimana kalau anda ada di posisi saya selama ini, masih sanggupkah anda bertahan? Masih bisakah anda tertawa, tuan?
Satu hal yang bisa saya petik kali ini, kata mbak Trinzi :
Satu hal yang harus kita sadari, hidup ini masih panjaaaaaaaaaaaaaaaang banget. Masih banyak yang bisa kita lakukan. Termasuk masih banyak cowo yang harus kita taksir, pacari dan dengerin rayuannya. Berdasarkan pengalaman nih, semakin sering pacaran dan semakin sering patah hati, saya makin belajar yang namanya cinta. Saya belajar kalau dalam cinta, KITA BERHAK UNTUK DI HARGAI DAN MERASA BAHAGIA. PENGORBANAN memang PENTING, tapi MENGHARGAI orang yang kita cintai JUGA PENTING.
Dan untuk semua pengorbanan yang sudah saya lakukan walaupun mungkin ending nya tidak sebanding, saya bersyukur atas semua keadaan yang saya alami sekarang dan yang terpenting saya masih merasa bangga terhadap diri saya sendiri…
~by Lia~
23/7/2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar