03 November 2009

awal dan akhir ..

ini beberapa notes yang aku ambil dr facebook nya grace melia, yg pgn banget aku tulis di sini..
bener2 nyentuh banget, buat aku..




(Awalnya),
DIA selalu datang, ada, dan setia ketika saya butuh dia
DIA berusaha menjadi sosok seperti yang saya minta
DIA menyediakan apa-apa yang saya perlukan,
baik itu waktu, tawa, keringat, atau tenaga,
dia selalu coba untuk mengusahakan semua buat saya,
meski untuk itu dia harus menukar hari-hari untuk sepotong tawa saya, atau rutinitasnya untuk kepuasan saya.
DIA selalu rela mengesampingkan semua untuk memenangkan keegoisan dan harga diri saya

(Perlahan),
SAYA mulai mencintai cara-cara dia memperlakukan saya
Tidak. Saya tidak cuman mencintai, mencintai bukan kata yang tepat rasanya
SAYA mulai tergila-gila akan semua tentang dia. DIA sudah memenangkan saya. MUTLAK
SAYA mulai mencarinya ketika dia tak ada
SAYA mulai mengangis ketika dia sedang terluka
SAYA mulai kesal ketika sesuatu mengusiknya
SAYA mulai ketakutan ketika dia mengacuhkan saya
Takut yang bukan sekedar takut, takut yang benar-benar takut. Takut bukan main-main
SAYA mulai rakus akan segala hal tentang dia
SAYA ketagihan dia
SAYA hapal semua hal tentang dia, kesukaannya, hewan yang paling ditakutinya, gurauan yang bisa membuatnya tertawa, semua.
SAYA hapal semua tentang dia,,lekuk tubuhnya, aroma tubuhnya, warna tubuhnya.
SAYA tau tiap goresan di tubuhnya tercipta karena apa; karena terkena kaca ada di punggung sebelah kiri, karena garukan yang terlampau keras ada di betis kanan, saya tau semua.
SAYA tau pukul berapa saja tubuhnya mengeluarkan aroma-aroma: pokoknya kira-kira jam dua, tubuhnya sudah mulai mengeluarkan aroma, aroma keringat, aroma keringat yang tidak sama dengan aroma keringat nya pukul lima.
DIA obat saya. DIA segalanya. DIA HARUS ada buat saya. Itu wajib hukumnya.

(Pelan-pelan),
DIA menjadi pribadi yang berbeda dari dia yang dulu mau melakukan apa saja buat saya.
DIA menarik dirinya jauh dari saya.
DIA kembali mencari jati dirinya, mencari waktunya, mencari keintiman dengan dunianya.
Ternyata SAYA bukan sesuatu yang kekal buat dia
SAYA hanya persinggahan sementara buat DIA, dan itu mengagetkan saya,
karena saya dengan naifnya percaya bahwa dia sudah menjadi milik saya seutuhnya

(Kini),
DIA sudah bukan milik saya
SAYA sudah bukan milik dia
DIA tidak lagi sudi mengusahakan apapun buat saya, padahal saya sudah mencoba beribu cara untuk membujuknya
DIA tidak lagi menghabiskan waktunya bersama saya, seperti sore-sore yang dulu selalu kami lewati berdua
SAYA tidak tau harus berbuat apa
SAYA seperti kehilangan dunia saya, karena rasanya dunia saya hanya berisikan dia sebagai pilar utamanya
SAYA tersesat. Dan DIA tidak dan belum juga datang menjemput saya.


SAYA lelah menunggu DIA
SAYA lelah berharap-harap di beranda depan dan menoleh tiap kali ada sosok yang mirip dengannya
SAYA lelah tiap mendapati bahwa sosok yang saya toleh itu sama sekali bukan DIA
SAYA lelah lelah lelah dan lelah, walaupun sebenarnya saya masih berharap, tapi tetap saja saya lelah

(Sekarang),
SAYA hanya ingin bertemu dengan DIA
Sekali saja
SAYA ingin melihat tatapan matanya yang tidak lagi seperti dulu
SAYA ingin mendengar ucapan ketusnya untuk apapun yang saya lakukan
Entah, untuk apa saya ingin merasakan itu semua

Dan, SAYA tidak akan mencari DIA lagi. Tidak akan.






PASRAH !

Dari awal, saya benci perbedaan. 
Saya suka semua hal tetap stabil dan juga stagnan. 
Saya selalu suka hal-hal yang sama, yang pasti, yang tidak akan menyakiti. 
Tapi dia berbeda dengan saya. 
Dan karena itulah, kami berbeda. Karena perbedaan.

Saya selalu percaya bahwa rasa harus disampaikan, bukan disimpan. 
Sebaliknya, dia bersikeras bahwa rasa tidak harus selalu disampaikan. 
Itulah perbedaan kami yang pertama dan juga utama. 
Saya selalu suka rela berusaha, berusaha untuk mempertahankan rasa. 
Tapi, dia terlalu tinggi hati untuk berusaha mempertahankan semua.
Baginya, melepas selalu lebih mudah daripada mempertahankan. 
Saya meyakini bahwa rasa pasti melibatkan pengorbanan sehingga pengorbanan pada akhirnya muncul sebagai sebuah kewajiban. 
Tapi dan tapi, lagi-lagi dia terlalu angkuh untuk memberikan secuil pengorbanan untuk sebuah rasa, karena rasa kadang tidak muncul dari nuraninya. 
Saya yang tidak menyukai perubahan sama sekali, ikhlas bahkan pasrah untuk belajar berubah.
Berubah untuk sejalan dengan dia, dengan egonya, dengan kemauannya, dan dengan keinginannya. Dan pada akhirnya saya mampu, bahkan kini berubah tidak lagi menjadi sebuah paksaan namun pengorbanan, yang irasional. 
Tapi, tapi, dan tapi, dia dengan teguh hati menganggap bahwa berubah adalah suatu syarat mutlak untuk senantiasa bisa bersamanya, sehingga dia tidak menghargai perubahan saya.
Dan kenyataan itulah yang membuka mata saya, akan semua.

Saya dan dia adalah pribadi yang sangat berbeda. 
Dan saya tidak suka itu, karena saya benci perbedaan. 
Namun, satu hal yang memberi persamaan pada saya dan dia adalah rasa itu.
Rasa itu sama buat saya dan buat dia. 
Tapi ternyata cara saya dan cara dia mengungkapkan, mengembangkan, dan mempertahankan rasa itu sangat berbeda. 
Tak ada lagi kata, asa, atau rasa pada saya sekarang. 
Yang ada hanyalah kenyataan bahwa saya semakin membenci perbedaan, sesuatu yang memaksa saya dan dia berpijak pada kenyataan.





dia ga pernah tau gimana rasanya jadi aku.
dari awalnya yang aku ga tau kenapa aku yakin 100% ga mungkin jatuh cinta apalgi pacaran ama dia, akhirnya sekarang aku ngerasa separuh jiwaku hilang cuma karena dia.


aku bingung. bener2 bingung tentang dia dan semua sikapnya. it's complicated.
kejadian kemaren di Bali, ku pikir bakal membuat sebuah perubahan.
kadang, sering terlintas di benakku kalau aku masih bisa jalani masa2 terakhir ku di SMA ini bareng2 ama dia.
tapi, ternyata aku terlalu banyak berharap. terlalu besar harapan ku, padahal aku tau aku udah lelah berharap. tapi ga tau kenapa aku terus berharap.
dan hasilnya : nothing!


sekarang, aku sudah bener2 berhenti berharap tentang dia.
aku berhenti mencarinya dan menunggunya.
semua kejadian yang udah aku alamin kali ini, bener2 bikin aku belajar buat selalu mengambil hikmah nya.
selalu ambil manfaat dari setiap kejadian.
mungkin, Tuhan lagi ngasi cobaan buat aku.
supaya aku bisa lebih kuat n sabar dalam bertahan.




stress itu di butuhkan agar aku semakin tegar menghadapi dunia.
penderitaan itu diperlukan untuk memperkuat imanku.
beban itu Tuhan taruh di pundakku agar aku bisa bertoleransi pada sesama.
keputusasaan itu Tuhan berikan agar aku tdk sombong dan senantiasa berserah.
aku percaya Tuhan mengasihiku dengan tulus. dan walaupun aku gak tau apa yang Tuhan rencanakan buat aku, aku percaya Tuhan selalu merencanakan yang terbaik buat aku.


untuk itu,
aku membutuhkan kesabaran..
aku membutuhkan kerelaan demi kebaikanku..



dan akhirnya aku aku belajar untuk tabah dan dewasa dalam menghadapi semuanya.
aku percaya ketabahan hati, akan menuntun ku pada kebahagiaan.

Tidak ada komentar: